Penyakit Dispnea | Pustaka Sekolah

Home > Eksakta > Penyakit Dispnea

Penyakit Dispnea

May 4th, 2012 1 Comment

Penyakit DispneaSahabat Pustakers, pada kesempatan kali ini Pustaka Sekolah akan berbagi artikel mengenai Penyakit Dispnea atau penyakit Dyspnea. Penyakit Dispnea adalah kesulitan bernapas. Kesulitan bernapas ini terlihat dengan adanya kontraksi otot-otot pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya terjadi dengan lambat, akan tetapi dapat pula terjadi dengan cepat. Kesulitan bernapas disebabkan karena suplai oksigen kedalam jaringan tubuh tidak sebanding dengan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh.

Dispnea atau sesak nafas merupakan keadaan yang sering ditemukan pada penyakit paru maupun jantung. Bila nyeri dada merupakan keluhan yang paling dominan pada penyakit paru. Akan tetapi kedua gejala ini jelas dapat dilihat pada emboli paru,bahkan sesak napas merupakan gejala utama pada payah jantung.

penyakit dispnea

Kasifikasi Penyakit Dispnea

Dispnea dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Inspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu inspirasi yang disebabkan oleh karena sulitnya udara untuk memasuki paru-paru.
  • Ekspiratori dispnea, yakni kesukaran bernapas pada waktu ekspirasi yang disebabkan oleh karena sulitnya udara yang keluar dari paru-paru.
  • Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan primer penyakit jantung.
  • Exertional dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena olahraga.
  • Exspansional dispnea, dispnea yang disebabkan oleh karena kesulitan exspansi dari rongga toraks.
  • Paroksismal dispnea, yakni dispnea yang terjadi sewaktu-waktu, baik pada malam maupun siang hari.
  • Ortostatik dispnea, yakni dispnea yang berkurang pada waktu posisi duduk.

Pembagian tersebut di atas tidak berdasarkan atas klasifikasi etiologi maupun tipe dispnea, akan tetapi istilah-istilah tersebut sering dipergunakan.

Berdasarkan etiologi maka dispnea dapat dibagi menjadi 4 bagian, yakni:

  • Kardiak dispnea, yakni dispnea yang disebabkan oleh karena adanya kelainan pada jantung.
  • Pulmunal dispnea, dispnea yang terjadi pada penyakit jantung.
  • Hematogenous, dispnea yang disebabkan oleh karena adanya asidosis, anemia atau anoksia, biasanya dispnea ini berhubungan dengan exertional (latihan).
  • Neurogenik, dispnea terjadi oleh karena kerusakan pada jaringan otot-otot pernapa

Tanda-Tanda Penyakit Dispnea

Tanda-tanda atau Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan klien tentang kondisinya saat ini. Keluhan utama yang biasa muncul pada klien gangguan kebutuhan oksigen dan karbondioksida antara lain : batuk, peningkatan produksi sputum, dyspnea, hemoptysis, wheezing, Stridor dan chest pain.

Batuk (Cough)

Batuk merupakan gejala utama pada klien dengan penyakit sistem pernafasan. Tanyakan berapa lama klien batuk (misal 1 minggu, 3 bulan). Tanyakan juga bagaimana hal tersebut timbul dengan waktu yang spesifik (misal : pada malam hari, ketika bangun tidur) atau hubungannya dengan aktifitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah produktif atau non produktif, kongesti, kering.

Peningkatan Produksi Sputum.

Sputum merupakan suatu substansi yang keluar bersama dengan batuk atau bersihan tenggorok. Trakeobronkial tree secara normal memproduksi sekitar 3 ons mucus sehari sebagai bagian dari mekanisme pembersihan normal (“Normal Cleansing Mechanism”). Tetapi produksi sputum akibat batuk adalah tidak normal. Tanyakan dan catat warna, konsistensi, bau dan jumlah dari sputum karena hal-hal tersebut dapat menunjukkan keadaan dari proses patologik. Jika infeksi timbul sputum dapat berwarna kuning atau hijau, sputum mungkin jernih, putih atau kelabu. Pada keadaan edema paru sputum akan berwarna merah mudah, mengandung darah dan dengan jumlah yang banyak.

Dyspnea

Dyspnea merupakan suatu persepsi kesulitan untuk bernafas/nafas pendek dan merupakan perasaan subjektif klien. Perawat mengkaji tentang kemampuan klien untuk melakukan aktifitas. Contoh ketika klien berjalan apakah dia mengalami dyspnea ?. kaji juga kemungkinan timbulnya paroxysmal nocturnal dyspnea dan orthopnea, yang berhubungan dengan penyakit paru kronik dan gagal jantung kiri.

Hemoptysis

Hemoptysis adalah darah yang keluar dari mulut dengan dibatukkan. Perawat mengkaji apakah darah tersebut berasal dari paru-paru, perdarahan hidung atau perut. Darah yang berasal dari paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru distimulasi segera oleh refleks batuk. Penyakit yang menyebabkan hemoptysis antara lain : Bronchitis Kronik, Bronchiectasis, TB Paru, Cystic fibrosis, Upper airway necrotizing granuloma, emboli paru, pneumonia, kanker paru dan abses paru.

Chest Pain

Chest pain (nyeri dada) dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru. Gambaran yang lengkap dari nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan nyeri pada pleura, muskuloskeletal, cardiac dan gastrointestinal. Paru-paru tidak mempunyai saraf yang sensitif terhadap nyeri, tetapi iga, otot, pleura parietal dan trakeobronkial tree mempunyai hal tersebut. Dikarenakan perasaan nyeri murni adalah subjektif, perawat harus menganalisis nyeri yang berhubungan dengan masalah yang menimbulkan nyeri timbul.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan gangguan oksigenasi yang mencakup ventilasi, difusi dan transportasi, sesuai dengan klasifikasi NANDA (2005) dan pengembangan dari penulis antara lain :

  • Bersihan Jalan nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Ventilasi) Adalah suatu kondisi dimana individu tidak mampu untuk batuk secara efektif.
  • Kerusakan pertukaran gas (Kerusakan pada fisiologi Difusi). Kondisi dimana terjadinya penurunan intake gas antara alveoli dan sistem vaskuler.
  • Pola nafas tidak efektif (Kerusakan pada fisiologi Transportasi). Adalah Suatu kondisi tidak adekuatnya ventilasi berhubungan dengan perubahan pola nafas. Hiperpnea atau hiperventilasi akan menyebabkan penurunan PCO2

Cara Mengobati Penyakit Dispnea

Berikut iniakan diungkap beberapa obat dari peyakit dispnea, simaklah selengkapnya:

  • Ringer Laktat (Cairan Kristaloid). Natrium klorida merupakan garam yang berperan penting dalam memelihara tekanan osmosis darah jaringan; Kalium Klorida merupakan garam terpilih untuk hipokalemia yang disertai hipokalemia; Natrium Laktat merupakan garam yang dibutuhkan untuk pelayanan darurat terhadap metabolik asidosis ; Kalsium klorida merupakan garam yang penting untuk menjaga fungsi normal otot dan saraf.
  • Ranitidin. Ranitidi digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan deudenum akut, refluk esofagitis, keadaan hipersekresi asam lambung patologis seperti pada sindroma ZollingerEllison. Hipersekresi pasca bedah.
  • Lasix Farmakologi. Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat
  • Laxis Farmakokinetik. Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian intramuskular dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 2,2 mcg/ml setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 30 mg. Waktu paruh terminal plasma 5,3 jam pada dewasa muda dan 7 jam pada orang lanjut usia (usia rata-rata 72 tahun). Lebih dari 99% Ketorolac terikat pada konsentrasi yang beragam. Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah pemberian secara intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah linear. Kadar steady state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap 6 jam dalam sehari. Pada dosis jangka panjang tidak dijumpai perubahan bersihan. Setelah pemberian dosis tunggal intravena, volume distribusinya rata-rata 0,25 L/kg. Ketorolac dan metabolitnya (konjugat dan metabolit para-hidroksi) ditemukan dalam urin (rata-rata 91,4%) dan sisanya (rata-rata 6,1%) diekskresi dalam feses. Pemberian Ketorolac secara parenteral tidak mengubah hemodinamik pasien.
  • Digoxin. Digoxin meningkatkan kekuatan dan kekuatan kontraksi jantung, dan berguna dalam pengobatan gagal jantung. Digoksin meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dengan menghambat aktivitas dari enzim (ATPase) yang mengontrol pergerakan kalsium, natrium dan kalium dalam otot jantung. ATPase menghambat peningkatan kalsium dalam otot jantung dan karena itu meningkatkan kekuatan kontraksi jantung. Digoxin listrik juga memperlambat konduksi antara atrium dan ventrikel jantung dan berguna dalam mengobati abnormal ritme atrium cepat seperti atrial fibrilasi, atrial bergetar, dan atrial takikardia. (Secara abnormal ritme atrium cepat dapat disebabkan oleh serangan jantung, kelebihan hormon tiroid , alkohol, infeksi, dan banyak kondisi lain.) Selama ritme atrium cepat, sinyal-sinyal listrik dari atrium cepat menyebabkan kontraksi ventrikel. Rapid ventrikel kontraksi tidak efisien dalam memompa darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke dalam tubuh, menyebabkan gejala kelemahan, sesak napas, pusing, dan bahkan sakit dada. Digoxin mengurangi gejala ini dengan menghalangi konduksi listrik antara atrium dan ventrikel, sehingga memperlambat kontraksi ventrikel.

Demikianlah artikel Yang membahas mengennai Penyakit Dispnea, semoga artikel ini sedikitnya dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ps]

Tags:


laporan pendahuluan dyspnea, askep dyspnea, dispnea, dyspnea adalah, dispnea adalah, askep dispnea, laporan pendahuluan dispnea, penyakit dyspnea, pengertian dispnea, asuhan keperawatan dyspnea
Bagikan Tulisan Ini Melalui Tombol di bawah ini:

1 Komentar Pada “Penyakit Dispnea”

  1. Kalau bleh tau Penerbit nya siapa.

 

Ayo Berkomentar

Rumah Minimalis