Wafatnya Gajah Mada

Wafatnya Patih Gajah Mada – Dalam Pararaton dikisahkan setelah peristiwa Bubat, Patih Gajah Mada Mukti Palapa yaitu kepergian Gajah Mada dari kepatihan dan melaksanakan pengembaraan untuk menghindari kemarahan Prabu Hayam Wuruk dan keluarga kerajaan lainnya. Namun pengembaraan tersebut tidak berlangsung lama , pada tahun saka 1281 atau tahun masehi 1359 patih Gajah Mada ikut serta dalam kunjungan Prabu Hayam Wuruk ke daerah Lumajang. Peristiwa tersebut tercatat dalam kitab NegaraKertagama pupuh 18/2. Pada Tahun saka 1284 Prabu Hayam Wuruk mengadakan upacara Srada yaitu penghormatan untuk Gayatri, Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi tampil kemuka mempersebahkan arca putri cantik yang sedang bersedih berlindung dibawah gubahan Nagapuspa yang melilit Rajasa. Selanjutnya dalam pararaton dikisahkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan Paduka Sori setelah peristiwa Bubat dimaksudkan untuk menghibur Prabu Hayam Wuruk yang menderita kepedihan akibat kegagalan perkawinannnya dengan Dyah Pitaloka dari kerajaan Pasudan. Setelah perkawinan tersebut keadaan menjadi reda, kemarahan Prabu hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada menjadi berkurang dan kelanjutan pemerintahan menjadi prioritas yang lebih diutamakan. Dalam masa jabatan ke dua Gajah Mada sebagai patih Amangku Bumi tidak terdapat sejarah yang berkaitan dengan gagasan Nusantara. Mungkin sekali setelah peristiwa Bubat Gajah Mada sudah merasa letih, tua dan Kecewa.

gajah mada wafat

Gajah Mada sudah merasa puas karena gagasan Nusantaranya telah dapat dilaksanakan lebih luas dari pada sumpah Palapa yang pernah diucapkan. Suatu kenyataan bahwa Gajah Mada tidak bergerak seaktif ketika masa jabatan patih Amangku Bumi yang pertama. Dalam masa jabatan ke dua sebagai patih Amangku Bumi lebih banyak dilaksanakan kunjungan ke daerah daerah oleh Prabu Hayam Wuruk, Dalam Nagarakretagama pupuh 17 kunjungan tersebut diantaranya :

  • Pajang tahun saka 1275
  • Lasem tahun saka 1276
  • Pajang tahun saka 1279
  • Lumajang tahun saka 1281

Dalam perjalanan yang terakhir tersebut Gajah Mada tidak ikut serta, Demikianlah Gajah Mada dipanggil kembali menjadi patih Amangku Bumi, semua orang dikerahkan untuk mencari ke pedusunan, hal tersebut membuktikan betapa besar jasa patih Gajah Mada terhadap perkembangan wilayah Kerajaan majapahit. Demikianlah tafsiran tentang kemoksaan tentang patih Gajah Mada dan amukti Palapa setelah peristiwa bubat seperti terdapat dalam kidung Suandayana dan Pararaton. Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda.

Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura. Disebutkan dalam Negarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah gering (sakit). Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi. Prabu Hayam Wuruk sangat terharu dan sedih dengan kepergian Gajah Mada, selain karena jasa yang sangat besar bagi perkembangan Majapahit, Gajah Mada juga dicintai rakyat karena dapat berbaur dengan semua kalangan.

Gajah Mada berprinsip bahwa hidup hanya sekali saja sehingga dalam perbuatannya sehari hari lebih banyak diisi dengan kegiatan beramal. Meninggalnya Gajah Mada menurut catatan Prapanca yang dituangkan dalam Negarakertagama dalam pupuh LXXI/I. Kabar dari Pararaton menyebut, tahun meningalnya Gajah Mada adalah 1290. Dalam hal ini, berita dari Negarakertagama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajah Mada). “Dari dialog imaginer paranormal didapat gambaran sosok Gajah Mada . Pada kesempatan tersebut, Gajah Mada menggambarkan sosok dirinya dalam untaian kata-kata bersyair.

“Aku masih bocah ketika pranyatan kamardikan (Pranyatan kamardikan, Jawa, pernyataan kemerdekaan atau proklamasi. Hari itu berbarengan dengan hari ketika Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja pertama Majapahit) Majapahit itu dikumandangkan. Aku masih ingat karena saat itu tiba-tiba banyak orang berbicara tentang Wilwatikta yang diharapkan menjadi sebuah negara yang besar.

Aku, siapakah aku? Orang menyebutku Gajah Mada. Sampai sejauh ini, tidak seorang pun tahu siapa aku. Dari mana asalku? Ada orang yang mengira aku bernama Gajah dari desa Mada. Ada pula yang mengira aku berasal dari Bali. Dari mana sebenarnya asalku? Aku telah mengambil keputusan untuk melipatnya dalam hati, termasuk siapa orang tuaku, aku tak berminat untuk bercerita. Aku dan latar belakangku sama sekali tidak penting sebagaimana berharap, kelak, berbarengan dengan akhir hidupku, tak perlu ada pihak yang menyesalkan mengapa aku tidak memiliki keturunan dan dimana pula aku dikubur. Namaku mulai dikenal orang ketika aku mengabdikan diri menjadi prajurit dengan tugas dan tanggung jawab mengamankan lingkungan istana serta memberikan pengawalan kepada segenap kerabat raja.

Aku sungguh beruntung karena berada di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat ketika ontran-ontran (Ontran-ontran, Jawa, geger, kekacauan) Ra Kuti terjadi. Karena keberhasilanku menyelamatkan raja dan mengembalikannya pada kekuasaan yang dirampok para Dharmaputra Winehsuka, aku diangkat menjadi Patih Kahuripan mendampingu Tuan Putri Breh Kahuripan atau Sri Gitarja. Selanjutnya, aku ditunjuk menjadi patih di Daha mendampingi Tuan Putri Breh Daha atau Dyah Wiyat.

Kedekatanku dengan Paman Arya Tadah, Patih Amangkubumi Majapahit kembali menunjukkan kepadaku bahwa aku berada di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat. Aku diminta menggantikannya menjadi patih amangkubumi karena beliau sakit-sakitan. Aku tiba-tiba tersadar bahwa ternyata peluangku untuk menduduki jabatan yang amat tinggi itu cukup besar. Padahal, di sekitarku ada banyak sekali calon yang layak ditunjuk menjadi mahapatih yang baru. Ada beberapa mahamenteri di barisan katrini yang lebih layak dariku.

Namun, tidak serta merta aku menerima tawaran itu. Aku tahu ada banyak orang yang merasa lebih pantas dan lebih berjasa untuk ditunjuk menjadi mahapatih. Kepada Paman Arya Tadah, aku minta waktu untuk membereskan lebih dulu pemberontakan di dua tempat sekaligus, yaitu di Sadeng dan Keta. Jika aku bisa merampungi makar di dua tempat itu, barulah aku bersedia. Aku menumandangkan sumpahku untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara yang ditandai dicabutnya Aksobhya dan digantikan gupala Camunda.

Sejak itu, hampir seluruh waktuku aku gunakan untuk meyatukan seluruh negara di wilayah Nusantara. Satu demi satu, negara yang ada diimbau untuk bergabung. Mereka harus disadarkan, kesatuan dan persatuan itu sangat penting karena di luar sana, ada negara Tartar yang pasti akan selalu berusaha mencari celah untuk menancapkan penaruhnya sebagaimana dulu pernah dialami Singasari. Untung, Sang Prabu Kertanegara telah bertindak benar. Utusan dari Tartar itu dipotong telinganya dan digunduli kepalanya.

Agar hal itu tidak terulang kembali, hanya satu jawabnya, semua negara harus bersatu di bawah naungan Majapahit. Sekuat apapun, Tartar hanya kuat di tempatnya, tetapi tidak di sini. Jika ribuan prajurit Tartar dikirim, Majapahit siap untuk menyediakan jumlah yang sama. Untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara tak cukup dengan duduk di atas kursi di belakang meja sambil menyalurkan perintah. Aku tak percaya ada keberhasilan dengan cara itu. Aku amat yakin sampai mendarah daging, untuk mewujudkan mimpi besarku, tak ada pilihan lain kecuali menyingkirkan nafsu hamukti wiwaha.



Hamukti Wiwaha adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan nikmat duniawi. Menikamti tingginya derajat dan pangkat, menikmati hidup dengan tiada hari tanpa bujana handrawina (Bujana handrawina, Jawa, pesta makan minum) merupakan salah satu pilihan yang bisa kuambil megingat aku adalah seorang mahapatih yang menjalankan pemerintahan mewakili raja. Akan tetapi, bukan hamukti wiwaha yang kuambil. Aku memilih lawan katanya, yaitu Hamukti palapa. Hanya semangat lara lapa (Lara lapa, Jawa, hidup menderita) atau palapa yang bisa mengantarku meraih apa yang aku impikan. Orang menyebut, aku tidak akan makan buah palapa, tidak makan rempah-rempah. Apa pun kata mereka, pilihan hamukti palapa yang kuambil adalah semata-mata berprihatin. Tanpa, dilandasi prihatin, sebuag doa yang dipanjatkan kepada Hyang Widdi tak terkabulkan. Tanpa prihatin, sebuah kerja besar tidak membuahkan hasil. Dilandasi laku prihatin dan kerja besar hamukti palapa itulah, satu demi satu untaian zamrud di Nusantara mewujud. Beberapa negara yang diimbau untuk bersatu menyatakan diri bergabung. Namun, ada pula yang harus diimbau beberapa kali dan terpaksa harus diancam. Jika negara-negara itu tidak ingin bergabung, untuk mereka hanya tersisa sebuah bahasa yang paling mudah dipahami, yaitu, digempur.

Perangku terjadi dimana-dimana, di Bali, Tumasek, Luwuk, Tanjung Pura, Dompo hingga Riau. Wilayah Majapahit akhirnya menjadi sangat besar. Beban seberat apapun jika ditanggung bersama pasti menjadi ringan. Dengan armada laut yang dibangun bersama-sama, kekuatan dari manca yang berusaha menancapkan pengaruhnya bisa dihalau. Persatuan dan kesatuan Majapahit juga memberikan dampak yang bagus, antara lain perang antara beberapa negara bawahan yang selama ini bermusuhan tidak terjadi lagi. Semua masalah bisa tuntas diselesaikan di Tatag Rambat Bale Manguntur lewat sidang pasewakan yang digelar setahun sekali.

Lalu, masalah timbul dari Sunda Galuh. Aku tidak senang dengan sikap Sunda Galuh yang masih membangkang, tidak mau menggabungkan diri dengan Majapahit. Dalam sidang di pasewakan, berulang kali aku mengutarakan pentingnya menyerbu Sunda Galuh dan memaksanya untuk bergabung dengan Majapahit. Akan tetapi, aku mengalami kesulitan memaksakan penyerbuan itu karena perlawanan dan ketidaksetujuan dari para Ibu Suri. Mereka beralasan, leluhurnya juga berasal dari Sunda Galuh.Penyerbuan ke Sunda Galuh kuyakini tidak akan mengalami kesulitan karena negara yang berada di wilayah Priangan itu menempatkan diri sebagai negara yang mengedepankan perdamaian. Namun, untuk bisa mengalahkan Sunda Galuh, aku harus berhadapan dengan niat Sang Prabu mengawini anak Raja Sunda Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi.

Perang Bubat adalah kesalahan pengelolaan keadaan yang aku lakukan. Sejujurnya, aku harus menyesali peristiwa itu. Andaikata aku sabar sedikit, penyatuan itu akan terjadi pula. Keadaan menjadi tidak terkendali karena Raja Sunda Galuh tak hanya punya nyali, tetapi juga punya harga diri. Aku membutuhkan waktu amat lama untuk mengakui peristiwa itu tak perlu terjadi.

Dalam semangatku membangun Majapahit, aku melumuri jiwaku dengan hamukti palapa. Aku menghindari gebyar duniawi. Kuhindari nafsu duniawi, termasuk aku menghindari memiliki istri. Dengan cita-cita sedemikian besar dan membutuhkan kerja keras, aku tidak mau terganggu oleh rengek istri dan atau tangisan anak. Tidak beristri dan tidak memiliki anak harus aku akui sebagai pilihan tersulit. Aakan tetapi, aku layak bersyukur bisa menjalaninya. Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan untuk pulang. Labih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa (Hamukti moksa, Jawa, semangat untuk meski lenyap, telah melakukan pekerjaan luar biasa demi orang lain, seperti lilin yang rela terbakar asal bisa menerangi tanpa meminta balasan, seperti pahlawan yang rela menjadi martir).

Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tidak diketahui anak turunnya. Biarlah gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.

Hari ini, ketika aku sendiri di istana karena Sang Prabu Hayam Wuruk sedang berada di Simping Blitar yang menjadi bagian rencana perjalanan panjangnya, aku merasakan nyeri di dada kiriku. Sakitnya tidak ketulungan. Peluh bagai diperas dari tubuhku. Aku merasa pintu gerbang kematian telah dibuka. Aku harus melepaskan semua urusan duniawiku, termasuk bagian yang paling sulit karena ada sesuatu yang menyatu di tubuhku, warisan yang aku peroleh dari Kiai Pawagal di Ujung Galuh.

Untuk membebaskan diri darinya bukan pekerjaan gampang. Aku tidak punya pilihan lain kecuali memutar udara itu dengan kencang, makin kencang dan makin kencang. Aku berharap saat pusaran angin itu bubar, hilang pula aku.

Demikian hasil penerawangan sosok Gajah Mada oleh Paranormal. Dalam pupuh 12/4 pujian pujangga Mpu Pranpanca dalam kidungnya sebagai berikut “ Di bagian timur laut adalah rumah Sang Gajah Mada, patih Wilkatikta, seoarang menteri wira, bijaksana serta setia bakti kepada raja, fasih bicara, jujur, pandai, tenang, teguh, tangkas serta cerdas, tangan kanan raja yang melindungi hidup penggerak dunia “ Keangungan Majapahit adalah berkat kemampuan Gajah Mada dalam menunaikan tugasnya sebgai patih Amangku Bumi. Mengenai asal usul Gajah Mada ada pendapat yang mengatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera

Satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik. Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini lokasinya ada di Sumatra, seperti kutipan dibawah ini Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.

Setelah berhasil melaksanakan ekspedisi Pamalayu, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, raja Kadiri.

Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan, saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Petak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit. Dari uraian-uraian di atas, ada yang berkesimpulan bahwa asal-usul Gajah Mada bukan dari Jawa tetapi Sumatra?

Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton :

  • Mahapatih Nambi 1294 – 13162.
  • Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233.
  • Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344.
  • Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364
  • Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 13946.
  • Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987.
  • Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108.
  • Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430

begitulah yang ditulis oleh pararaton, tentunya dua buah karya sastra kuno besar (Negarakertagama dan Pararaton) layak dipercaya. Nama Gajah Mada juga tercantum di prasasti Singhasari tahun 1351, Mahamantrimukya Rakryan Mapatih Mpu Mada.[ps]

Click Me!

Tags:


kematian gajah mada, wafatnya gajah mada, meninggalnya gajah mada, sejarah kematian gajah mada, Penyebab Kematian gajah mada, kematian patih gajah mada, bagaimana kematian gajah mada sebenarnya, matinya gajah mada, halayuda, Kisah kematian gajah mada

Artikel Terkait Dengan: "Wafatnya Gajah Mada"

Response on "Wafatnya Gajah Mada"