Sinopsis Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli

Sinopsis Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli - Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya Kasih Tak sampai ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.

Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.

Pada suatu hari setelah pulang dari sekolah, Samsulbahri mengajak Siti Nurbaya bertamasya ke gunung Padang bersama-sama dua orang temannya, yakni Zainularifin, anak seorang jaksa kepala di Padang yang bernama Sutan Pamuncak, dan Bakhtiar, anak seorang guru kepala SD. Tiga bulan lagi zainularifin akan melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Dokter Jawa di Jakarta; sedang Bakhtiar melanjutkan ke Sekolah Opzichter (KWS) di Jakarta pula. Samsulbahri pun akan melanjutkan ke Sekolah Dokter tersebut. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka bertamasyra ke gunung padang. Di gunung Padang itulah Samsulbahri menyatakan cintanya kepada Siti Nurbaya dan mendapat balasan. Sejak itulah mereka itu mengadakan perjanjian akan sehidup semati.

Pada suatu hari yang telah ditentukan, berangkatlah Samsulbahri melanjutkan sekolahnya ke Jakarta. Sekolahnya menjadi satu dengan Zainularifin.

Di padang ada seorang-orang kaya bernama Datuk Maringgih. Ia selalu berbuat kejahatan secara halus sehingga tidak diketahui orang lain. Kekayaannya itu didapatnya dengan cara tidak halal. Untuk itu ia mempunyai banyak kaki tangan, antara lain ialah pendekat Tiga. Pendekat Empat, dan Pendekar dirinya sambil menyeret Siti Nurbaya, maka pukulan Datuk Maringgih tidak mengenai sasarannya. Akibatnya tersungkurlah Datuk Maringgih. Dengan segera Samsulbahri menendangnya, dan karena kesakitan, berteriaklah Datuk Maringgih minta tolong. Mendengar teriakan Datuk Maringgih itulah maka pada suatu saat itu juga keluarlah Pendekar Lima dari persembunyiannya dengan bersenjata sebilah keris.



Melihat Pendekar Lima membawa keris itu, berteriaklah Situ Nurbaya sehingga teriakannya itu terdengar oleh para tetangga dan Baginda Sulaiman yang sedang sakit itu. Karena disangkanya Siti Nurbaya mendapatkan kecelakaan, maka bangkitlah Baginda Sulaiman dan pergi ke tempat anaknya itu. Tetapi karena kurang hati-hati, terperosoklah ia jatuh, sehingga seketika itu juga Baginda Sulaiman meninggal. Ia dikebumikan di gunung Padang.

Pada waktu pendekar lima hendak menikam Samsulbahri, menghindarlah Samsulbahri ke samping. Dan pada saat itu juga ia berhasil menyepak tangan pendekar lima, sehingga keris yang ada di tangannya terlepas. Sementara itu datanglah para tetangga yang mendengar teriakan Siti Nurbaya tadi. Melihat mereka datang, larilah pendekar lima menyelinap ke tempat yang gelap.

Di antara para tentagga yang datang itu, kelihatan pula Sutan Mahmud Syah yang hendak menyelesaikan peristiwa itu. Setelah itu mendegar penjelasan Datuk Maringgih tentang hal anaknya itu, maka Samsulbahri pun diajaknya pulang, dan karena malunya maka diusirlah Samsulbahri pun Mahmud Syah tanpa dipikirkannya masak-masak lebih dahulu lagi. Pada malam itu juga secara diam-diam pergilah Samsulbahri ke Teluk Bayur untuk naik kapal pergi ke Jakarta. Pada pagi harinya ributlah Siti Maryam mencari anaknya. Setelah gagal mencarinya di sana-sini, maka dengan sedihnya, pergilah Siti Maryam ke rumah saudaranya di Padangpanjang. Di sana karena kesedihannya itu, ia menjadi sakit-saki saja.

Sejak kematian ayahnya, Siti Nurbaya menunjukkan kekerasan hatinya kepada Datuk Maringgih. Ia berani mengusir Datuk Maringgih dan tak sudi mengaku suaminya lagi. Ia berusaha hendak membunuh Siti Nurbaya.

Setelah perisitwa pertengkaran dengan Datuk Maringgih itu. Siti Nurbaya tinggal di rumah saudara sepupunya yang bernama Alimah. Di rumah itulah Siti Nurbaya mendapat petunjuk-petunjuk dan nasihat, antara lain ialah untuk menjaga keselamatan atas dirinya, Siti Nurbaya dinasihati oleh Alimah agar pergi saja ke Jakarta, berkumpul dengan Samsulbahri. Petunjuk dan nasihat Alimah itu sepenuhnya diterima oleh Siti Nurbaya dan diputuskannya akan pergi ke Jakarta bersama Pak Ali yang telah berhenti ikut Sutan Mahmud Syah sejak pengusiran diri atas Samsulbahri tersebut. Kepada Samsul bahri pun ia memberitahukan kedatangannya itu. Tapi malang bagi Siti Nurbaya, karena percakapannya dengan Alimah tersebut dapat didengar oleh kaki tangan Datuk Maringgih yang memang sengaja memata-matainya.

Download Sinopsis selengkapnya DISINI

Click Me!

Tags:


sinopsis novel siti nurbaya, sinopsis siti nurbaya, sinopsis novel siti nurbaya karya marah rusli, sinopsis siti nurbaya karya marah rusli, novel siti nurbaya, ringkasan novel siti nurbaya, sinopsis roman siti nurbaya, resensi novel siti nurbaya, contoh sinopsis novel siti nurbaya, sinopsis novel siti nurbaya kasih tak sampai

Artikel Terkait Dengan: "Sinopsis Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli"

Response on "Sinopsis Novel Sitti Nurbaya Karya Marah Rusli"