Perkembangan Islam Di Sulawesi


Perkembangan Islam Di Sulawesi – Sahabat , pada kesempatan kali ni Pustaka sekolah akan berbagi artikel yang berjudul Perkembangan Islam di sulawesi. Jika kita berbicara lingkup sejarah Islam dengan zone Sulawesi, maka kita akan mendapatkan, bahwa yang menjadi pusat peradaban Islam di sulawesi adalah Kerajaan Gowa.

Kerajaan Gowa secara geografis terletak di dearah Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan saat ini. Kerajaan ini dikenal merupakan kerajaan maritim yang sempat “menguasai” Asia Tenggara. Pelaut-pelaut ulung dari kerajaan Gowa pun sangat kesohor, mereka menjelajah Samudera dengan Perahu Pinisi, mereka sampai ke Eropa, Afrika dan Australia dalam menjelajahi samudera.

Raja Pertama kerajaan Gowa adalah Seorang wanita/ratu yang bernama To Manurunga (orang yang datang dari kayangan). Dinasti To Manurunga ini kemudian menjadi raja  atau dikenal sebagai sombayya secara turun temurun.

Sultan Alauddin



Islam di Sulawesi

Agama Islam masuk ke Sulawesi sejak abad ke-16, pada masa kekuasaan Sombayya Ri Gowa I Mangngarrangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung Sultan Alauddin Awwalul islam raja Gowa ke-14, Islam secara resmi diterima sebagai agama resmi kerajaan Gowa pada hari Jumat tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H. atau bertepatan pada tanggal 20 September 1605 Masehi. Sedangkan Raja Tallo bergelar Sultan Abdullah. Di antara para muballigh yang banyak berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Sulawesi, antara lain:

  • Katib Tunggal,
  • Datuk Ri Bandang,
  • Datuk Patimang,
  • Datuk Ri Tiro
  • Syekh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Salamaka.

Dakwah Islamiyah ke Sulawesi berkembang terus sampai ke daerah kerajaan Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, dan lain-lain. Suku Bugis yang terkenal berani, jujur dan suka berterus terang, semula sulit menerima agama Islam. Namun berkat kesungguhan dan keuletan para mubaligh dan pasukan kerajaan Gowa, secara berangsur-angsur mereka menjadi penganut Islam yang setia.

Pelaut-pelaut Bugis/Makaasar berlayar menjelajah seluruh Indonesia sampai ke Aceh. Di antara mereka adalah pembesar Bugis/Makassar bernama Daeng mansur yang di Aceh lebih dikenal dengan panggilan Tengku di Bugis. Salah seorang puterinya bernama puteri Sendi. Ia dikawinkan dengan Sultan Iskandar Muda, raja besar Aceh. Sejak itu hubungan antara Aceh – Bugis sangat erat, sehingga banyak pengaruh budaya Aceh di Bugis. Bentuk rumah dan cara hidup orang Bugis banyak kesamaannya dengan Aceh. Tampaknya hubungan perdagangan yang diperkuat dengan hubungan kekerabatan yang berdasarkan agama Islam itu telah memperkokoh hubungan persatuan antara penduduk di seluruh wilayah Indonesia.

Demikialah artikel Pustaka Sekolah yang membahas mengenai, semoga artikel ini dpat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ps]

Tags:


perkembangan islam di sulawesi, sejarah perkembangan islam di sulawesi, penyebaran islam di sulawesi, kerajaan islam di sulawesi, Sejarah masuknya islam di sulawesi, perkembangan kerajaan islam di sulawesi, masuknya islam di sulawesi, penyebaran agama islam di sulawesi, islam di sulawesi, sejarah islam di sulawesi

Artikel Terkait Dengan: "Perkembangan Islam Di Sulawesi"

Response on "Perkembangan Islam Di Sulawesi"