Klasifikasi Ikan Mujair


Klasifikasi Ikan Mujair Sahabat , pada kesempatan kali ini Pustaka Sekolah akan berbagi artikel mengenai Klasifikasi Ikan Mujair.  Klasifikasi ikan mujair menurut W. Peters (1852) adalah sebagai berikut: Kerajaan Animalia; Filum Chordata; Kelas Actinopterygii; Ordo Perciformes; Familia Cichlidae; Genus Oreochromis; Spesies Oreochromis  mossambicus.

Pisces adalah binatang bertulang belakang yang hidup di air, bernafas dengan insang. Ikan mempunyai sirip yang berfungsi untuk berenang dan tubuh yang ramping untuk memudahkan bergerak di dalam air. Secara umum ciri-ciri pisces ialah hidup di air, memiliki sirip untuk menentukan arah gerak di dalam air, memiliki gurat sisi untuk mengetahui tekanan air, memiliki suhu badan poikiloterm atau berdarah dingin yaitu suhu badan disesuaikan dengan lingkungan, dan berkembangbiak dengan cara bertelur atauovipar. Kelompok pisces dibedakan berdasarkan penyusun rangka tubuhnya menjadi dua, yaitu ikan berkerangka tulang rawan (chondrichtyes) dan ikan berkerangka tulang keras atau sejati (osteichtyes).

ikan mujair

Bentuk dasar tubuh eksternal ikan sangat bervariasi, bentuk fusiform, membulat, panjang, pipih dorso-ventral atau latero-lateral dan dilengkapi dengan beberapa sirip. Bentuk eksternal ikan merupakan bentuk adaptasi dengan factor lingkungan tempat hidupnya. Ikan memiliki variasi warna menurut spesies, jenis kelamin, perkembangan masa birahi, atau sebagai bentuk penyamaran. Sisik pada ikan merupakan salah satu bentuk proteksi eksternal. Sisik stenoid dan sikloid akan berkembang mengikuti umur ikan, sehingga muncul cincin pertumbuhan yang disebut sirkuli. Pada daerah beriklim sedang, saat musim dingin pertumbuhan yang terjadi sangat lambat sehingga jarak antar sirkuli sangat sempit sehingga membentuk garis gelap yang disebut annulus. Usia ikan dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah annuli maka (Fujaya, 2004).

Sirip merupakan alat tambahan yang befungsi untuk mengatur kedudukan, gerakan, arah gerakan maupun menjaga keseimbangan pada posisi diam. Letak, ukuran, dan bentuk sirip sangat berhubungan dengan bentuk tubuh secara keseluruhan dan sifat ikan yang bersangkutan. Masing-masing sirip dikontrol oleh serangkaian otot dan didukung pada bagian internal oleh sejumlah jari-jari tulang rawan atau tulang keras.

Ikan pada umumnya memiliki mata latero-lateral atau di permukaan dorsal tubuh. Mata ikan dapat mengenali warna arena indeks refraktif air, maka untuk mefokuskan pandangan lensa mata dapat bergerak keluar masuk. Sepasang lobang hidung terdapat pada bagian anterior, dapat berfungsi mendeteksi bau dan mungkin sangat sensitif (Radiopoetro, 1996).

Anatomi internal pada ikan meliputi sistem skeleton, sistem otot, sistem pencernaan, sistem sirkulasi, sistem respirasi, sistem ekskretori, sistem saraf dan organ, sistem rerproduksi serta sistem endokrin.

Rangka ikan berdasarkan letaknya dapat dibedakan menjadi eksoskeleton dan endoskeleton. Eksoskeleton merupakan rangka luar, misalnya sisik ikan sedangkan endoskeleton adalah rangka dalam, misalnya columna vertebralis.  Rangka pada ikan sebagaimana pada vertebrata lain adalah sebagai penegak tubuh, penyokong organ tubuh.

Menurut Jasin (1984), sistem rangka ikan terbagi atas tulang rawan, jaringan pengikat, sisik (squama), komponen-komponen gigi, jari-jari sirip serta penyokong sel pada sistem saraf.

Secara tidak langsung, bentuk rangka menentukan bentuk tubuh ikan yang beraneka ragam.Bentuk tubuh ikan merupakan interaksi antara sistem rangka dengan sistem otot serta evolusi dalam adaptasi kedua sistem tersebut terhadap lingkungannya. Rangka yang menjadi penegak tubuh ikan terdiri dari tulang rawan dan atau tulang sejati. Osteichthyes terdiri dari tulang sejati. Sebagian besar tulang Osteichthyes pada permulaannya terbentuk melalui tahap tulang rawan, kemudian materialnya menjadi tulang sejati dalam bentuk bentuk yang khusus melalui osifikasi. Osifikasi merupakan proses perubahan tulang rawan menjadi tulang sejati atau tulang keras (Fujaya, 2004).

Sisik dan sirip merupakan eksoskleton, sedang endoskeleton terdiri atas tulang tempurung kepala , columna vertebralis, cingulum pectoralis, tulang-tulang kecil tambahan yang menyokong sirip. Tulang-tulang tempurung kepala terdiri atas cranium sebagai tempat otak, capsula untuk tempat beberapa pasang organon  sensoris (olfactory, optic, auditory) dan skeleton viceralis, yang merupakan bagian pembentuk tulang rahang dan penyokong lidah insang untuk mekanisme.  Tengkorak (tempurung)  kepala melekat dekat sekali dengan columna vertebralis, oleh karena itu ikan tidak bisa memutar kepalanya. Gigi biasanya terdapat pada tulang premaxillary dentary, vomer dan tulang palatine (Jasin, 1984).



Ikan seperti pada hewan lain, melakukan gerakan dengan dukungan alat gerak. Pada ikan, alat gerak yang utama dalam melakukan manuver di dalam air adalah sirip. Sirip ikan juga dapat digunakan sebagai sumber data untuk identifikasi karena setiap sirip suatu spesies ikan memiliki jumlah yang berbeda dan hal ini disebabkan oleh evolusi (Jasin, 1989).

Menurut Hardikastowo (1984), sirip pada ikan terdiri dari beberapa bagian yang dinamakan sesuai dengan letak sirip tersebut berada pada tubuh ikan, yaitu:

  • Pinna dorsalis (dorsal fin) adalah sirip yang berada di bagian dorsal tubuh ikan dan berfungsi dalam stabilitas ikan ketika berenang. Bersama-sama dengan pinna analis membantu ikan untuk bergerak memutar.
  • Pinna pectoralis (pectoral fin) adalah sirip yang terletak di posterior operculum atau pada pertengahan tinggi pada kedua sisi tubuh ikan. Fungsi sirip ini adalah untuk pergerakan maju, kesamping dan diam (mengerem).
  • Pinna ventralis (ventral fin) adalah sirip yang berada pada bagian perut. Ikan dan berfungsi dalam membantu menstabilkan ikan saat berenang. Selain itu, juga berfungsi dalam membantu untuk menetapkan posisi ikan pada suatu kedalaman.
  • Pinna analis (anal fin) adalah sirip yang berada pada bagian ventral tubuh di daerah posterior anal. Fungsi sirip ini adalah membantu dalam stabilitas berenang ikan.
  • Pinna caudalis (caudal fin) adalah siripikan yang berada di bagian posterior tubuh dan biasanya disebut sebagai ekor. Pada sebagian besarikan, sirip ini berfungsi sebagai pendorong utama ketika berenang (maju) clan juga  sebagai kemudi ketika bermanuver.
  • Adipose fin adalah sirip yang keberadaannya tidak pada semua jenis ikan. Letak sirip ini adalah pada dorsal tubuh, sedikit di depan pinna caudalis.

Menurut Hildebrand (1982), anatomi sirip ekor dapat dibedakan atas 4 tipe, antara lain:

  • Protocercal, yaitu bila akhir kolumna vertebralis sampai pada ujung ekor dan ekornya berujung tumpul.
  • Diphicercal, bila akhir kolumna vertebralis sampai ujung ekor dan ekornya berujung meruncing.
  • Homocercal, bila kolumna vertebralis berakhir tidak pada ujung ekor, tetapi sedikit membelok ke atas dengan ujung ekor terbagi menjadi dua bagian yang sama.
  • Heterocercal, bila kolumna vertebralis berakhir menjorok ke salah satu ujung ekor yang membagi diri menjadi dua bagian yang tidak sama. Dibedakan menjadi episirkal dan hiposirkal.

 Djuhanda (1983) menjelaskan bahwa sisik-sisik pada hewan, secara struktur umumnya merupakan bagian dari sistem integumen, yakni penutup luar tubuh binatang. Ada beberapa macam sisik ikan yang dikenal, yakni :

  • Sisik kosmoid (cosmoid) sisik kosmoid yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin.  Ikan coelacanth memiliki semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
  • Sisik ganoid Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidaedan Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoin terletak di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
  • Sisik plakoid Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
  • Sisik leptoid Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).

Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper. Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘modern’ yang memiliki sirip-sirip berduri. Sejalan dengan pertumbuhannya, sisik-sisik sikloid dan ktenoid terus bertambah lingkaran tahunnya. Sisik-sisik ini tersusun di tubuh ikan seperti genting dengan arah menutup kebelakang, sehingga memungkinkan aliran air yang lebih lancar di sekeliling tubuh dan mengurangi gesekan.[ps]



Tags:


klasifikasi ikan mujair, ANATOMI IKAN, morfologi ikan, ciri-ciri ikan mujair, morfologi ikan mujair, anatomi ikan mujair, berapa detik ikan mujair bernapas, struktur tubuh ikan mujair, bentuk tubuh ikan mujair, ciri ciri ikan mujair

Artikel Terkait Dengan: "Klasifikasi Ikan Mujair"

Response on "Klasifikasi Ikan Mujair"