Imam Syafii: Pendiri Mazhab Syafii | Pustaka Sekolah

Home > Pendidikan > Imam Syafii: Pendiri Mazhab Syafii

Imam Syafii: Pendiri Mazhab Syafii

October 13th, 2012 0 Comments

Imam Syafi’i: Pendiri Mazhab Syafi’i – Sahabat Pustakers, pada kesempaan kali ini Pustaka sekolah akan berbagi informasi mengenai sejarah hidup dari salah satu pendiri mazhab terbesar Islam, Iman Syafii. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Namun dunia lebih mengenalnya dengan panggilan Imam Syafi’i. Ulama mujtahid (ahli ijtihad) di bidang fikih dan salah seorang dari empat imam mazhab yang terkenal dalam Islam ini dilahirkan di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H/767 M dan wafat di Kairo, Mesir, pada tahun 204 H/820 M.

Ia dilahirkan sebagai seorang yatim. Ayahnya meninggal selang beberapa bulan sebelum dirinya dilahirkan. Saat usianya menginjak dua tahun, ibunya membawanya pulang ke kampung halaman mereka di Makkah. Di sinilah, Syafi’i tumbuh dan dibesarkan. Sejak usia dini, ia telah memperlihatkan kecerdasan dan daya hapal yang luar biasa. Karenanya tak mengherankan jika di usia sembilan tahun Syafi’i sudah hapal seluruh isi Alquran dengan lancar. Kemudian ia memutuskan untuk mempelajari bahasa Arab yang asli dan fasih di luar Makkah. Ia berangkat ke dusun Badui, Bani Hudail, untuk mendalami bahasa, kesusastraan, dan adat-istiadat Arab yang asli.

Berkat ketekunan dan kesungguhannya, Syafi’i kemudian dikenal sangat ahli dalam bahasa Arab dan kesusastraan, mahir membuat syair, serta mendalami adat-istiadat Arab yang asli. Selepas menuntut ilmu di dusun Badui, ia kembali ke Makkah untuk belajar ilmu fikih pada seorang ulama besar dan mufti di Kota Makkah, Imam Muslim bin Khalid Az-Zanni. Selain fikih, ia juga mempelajari berbagai cabang ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits dan ilmu Alquran. Untuk ilmu hadits, ia berguru pada ulama hadits terkenal di zaman itu, Imam Sufyan bin Uyainah, sedangkan untuk ilmu Alquran pada ulama besar, Imam Ismail bin Qastantin. Disamping cerdas, Syafi’i juga sangat tekun dan tidak kenal lelah dalam belajar. Selama menuntut ilmu, Syafi’i hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Diriwayatkan, pernah karena kemiskinan dan ketidakmampuannya ia terpaksa mengumpulkan kertas-kertas bekas dari kantor-kantor pemerintah atau tulang-tulang sebagai alat untuk mencatat pelajarannya.

Minatnya terhadap ilmu fikih mulai tampak setelah ia membaca kitab Al-Muwatha’ karangan Imam Malik. Untuk memperdalam pengetahuan mengenai fikih, ia memutuskan untuk berguru pada ulama pencetus mazhab Maliki ini. Keseriusan dan ketekunan Syafi’i dalam mempelajari ilmu fikih membuatnya menjadi salah seorang murid kesayangan Imam Malik. Oleh sang guru ia diserahi tugas untuk mendiktekan isi kitab Al-Muwatha’ kepada murid-murid Imam Malik. Setelah merasa cukup berguru pada Imam Malik, Syafi’i melanjutkan perjalanan untuk memperluas pengetahuannya mengenai ilmu fikih hingga ke Irak. Di sana ia berguru pada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Dari kedua imam itu, Syafi’i mempelajari cara-cara hakim memeriksa dan memutuskan perkara, cara memberi fatwa, cara menjatuhkan hukuman, serta berbagai metode yang diterapkan oleh para mufti di Irak. Selain sebagai ulama ahli fikih, Syafi’i juga dikenal sebagai ulama hadits, tafsir, bahasa dan kesusastraan Arab, ilmu falak, ilmu ushul, ilmu tarikh, dan ilmu qira’ah. Kiprahnya di bidang pendidikan dimulai dengan mengajar di Madinah dan menjadi asisten Imam Malik. Waktu itu usianya sekitar 29 tahun. Ia mengajar di Madinah selama kurang lebih empat tahun sampai wafatnya Imam Malik.

Selepas Imam Malik wafat, Syafi’i pindah ke Yaman atas undangan wali negeri Yaman, Abdullah bin Hasan. Di Yaman ia diangkat sebagai penasihat khusus urusan hukum, disamping tetap melanjutkan karirnya sebagai guru. Imam Syafi’i hidup di masa pemerintahan tiga orang khalifah yang berbeda dari Dinasti Abbasiyah, yakni Khalifah Harun Ar-Rasyid, Al-Amin, dan Al-Ma’mun. Saat ia menetap di Yaman, aktivitas orang-orang Syiah—sebagai kelompok oposisi yang akan menjatuhkan pemerintah resmi di Baghdad—sedang gencar-gencarnya. Diriwayatkan, pemerintah resmi di Baghdad di bawah kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid memerintahkan penangkapan terhadap Imam Syafi’i atas tuduhan keterlibatan sang ulama dalam aktivitas Syiah. Namun, tuduhan tersebut tidak terbukti. Setelah dibebaskan, Khalifah meminta Syafi’i untuk mengajar di Baghdad. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun, ia diberi tempat mengajar di dalam Masjid Baghdad. Seperti halnya sang guru (Imam Malik), Imam Syafi’i juga memiliki minat yang besar terhadap ilmu fikih.

Meski semasa hidupnya ia disibukkan dengan melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, namun hal itu tidak menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Kitab-kitab tersebut antara lain mengenai tafsir, fikih, adab (sastra), dan lain-lain. Berapa jumlah kitab yang telah ditulis oleh sang ulama pencetus Mazhab Syafi’i ini, tidak ada yang menyebutkan secara pasti.

Menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 kitab, sedangkan menurut Al-Marwaziy sebanyak 113 kitab. Sementara Yaqut Al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrasat. Di antara banyak karyanya yang paling terkenal adalah Ar-Risalah, kitab yang khusus membahasa tentang ushul fikih. Di dalamnya Syafi’i menguraikan dengan jelas cara-cara mengambil dan menetapkan (istinbat) hukum. Kitab ini merupakan buku pertama yang ditulis ulama dalam bidang ushul fikih, Sampai sekarang buku ini tetap menjadi rujukan standar dalam bidang ushul fikih

Karya kedua Imam Syafi’i adalah kitab Al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Kitab Al-Umm yang ada saat ini terdiri atas tujuh jilid dan mencakup isi beberapa kitab Syafi’i yang lain seperti Siyar al-Ausa’i, Jima’ al-‘Ilm, Ibtat al-Istihsan, dan Ar-Radd ‘Ala Muhammad ibn Hasan. Karya lainnya kitab Al-Musnad, berisi tentang hadits-hadits Nabi SAW yang dihimpun dari kitab Al-Umm. Dalam kitab ini dijelaskan keadaan sanad setiap hadits. Kitab Al-Hadits, suatu kitab hadits yang menguraikan pendapat Syafi’i mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam hadits.

Selain kitab yang ditulis sendiri oleh Imam Syafi’i, terdapat juga buku-buku yang memuat ide-ide dan pikiran-pikiran sang ulama tetapi ditulis oleh murid-muridnya, seperti kitab Al-Fiqh, Al-Kabir, Al-Mukhtasar As-Sagir, dan Al-Fara’id. Dalam pandangan Imam Syafi’i, hadits mempunyai kedudukan yang begitu tinggi. Ia sangat mengutamakan sunah Nabi SAW dalam melandasi pendapat-pendapat dan hasil ijtihadnya. Karena itu ia digelari Nashir As-Sunnah (pembela sunah atau hadits). Bahkan seorang ulama besar, Abdul Halim Al-Jundi, menulis sebuah buku dengan judul “Imam Syafi’i, Pembela Sunah dan Peletak Dasar Ilmu Ushul Fikih”. Di dalamnya diuraikan secara rinci bagaimana sikap dan pembelaan Syafi’i terhadap sunah. Karena sangat mengutamakan sunah, Syafi’i menjadi sangat berhati-hati dalam menggunakan qiyas. Menurutnya, qiyas hanya dapat digunakan dalam keadaan terpaksa (darurat), yaitu dalam masalah muamalah (kemasyarakatan) yang tidak didapati teksnya (nashnya) secara pasti dan jelas di dalam Alquran atau hadits sahih, atau tidak dijumpai pada ijmak para sahabat. Dalam penggunaan qiyas, Syafi’i menegaskan harus diperhatikan nash-nash Alquran dan sunah yang telah ada.

Dalam mengambil dan menetapkan suatu hukum, Syafi’i memakai lima landasan, yaitu Alquran, sunah, ijmak, qiyas, dan istidlal (penalaran). Kelima landasan inilah yang kemudian dikenal sebagai dasar-dasar Mazhab Imam Syafi’i. Mazhab Syafi’i ini menjadi acuan di kalangan Ahlus Sunah wal Jamaah.[ps]

Tags:


ilmu-ilmu agama mengenai mazhab syafii, SEJARAH IMAM PENDIRI MAZHAB, sejarah berdirinya mazhab syafii, rpp imam hambali, pendiri pencetus balai pustaka, pendiri mazhab syafi\i, pendiri dan sejarah berdirinya mazhab syafii, kisah kisah ketekunan imam syafii menuntut ilmu, kata mutiara cinta imam majhab mujtahid, sejarah lengkap mazhab syafii
Bagikan Tulisan Ini Melalui Tombol di bawah ini:

Trackbacks/Pingbacks

 

Ayo Berkomentar

Rumah Minimalis