Arti Kata Sengkang

Sahabat , so pasti masih banyak di antara anda yang bertanya-tanya apakah arti kata sengkang ?. Yup Sengkang adalah nama ibukota dari salah satu Kabupaten yang tergabung dalam Provinsi Sulawesi Selatan dan Dipimpin oleh Andi Burhanuddin Unru, kabupaten ini dikenal dengan sarung suteranya, keeksotikan wsiata alam Danau Tempe, Nama Wilayah ini adalah Kabupaten Wajo.

Dari Beberapa referensi yang sempat admin baca, maka dapat didefinisikan arti kata Sengkang. Sengkang  merupakan hasil perubahan penyebutan dari kata Siengkang, Singkang, Sengka. Jika ditilik makna ketiga arti kata  tersebut, maka kata Siengkang, Singkang, atau Sengka (Bahasa Bugis, juga bahasa Makassar)  berarti Singgah, mampir atau tempat persinggahan. Menghubungkan makna Sengkang dengan diabadikannya nama tersebut menjadi sebuah ibukota di kabupaten Wajo, maka dapat disimpulkan, bahwa wilayah Sengkang sekarang dulunya, adalah sebuah tempat strategis yang membuat orang-orang jika melewati wilayah ini akan singgah, karena ada hal-hal yang istimewa atau menarik ditempat ini. Olehnya itu ketika Kerajaan Wajo memindahkan ibukotanya dari Tosora, maka Sengkang dipilih menjadi Capital City of Wajo, dan jadilah Sengkang menjadi pusat pemerintahan Wajo sampai detik ini.

Logo Kabupaten Wajo

Versi lain dari arti kata Sengkang, menurut masyarakat setempat adalah sengkang itu memiliki arti apa – apa saja ada disini, maksudnya barang-barang apa saja yang baru dilauncing pasti ada di sengkang, misalnya ponsel keluaran terbaru, motor  keluaran terbaru dan mobil keluaran terbaru pasti ada di Kota Sengkang. (kalo versi ini hasil modif dari masyarakat melihat realita yang ada di Sengkang :) ).

Sengkang  (Wajo) Daerah Penerima islam Pertama di Sulawesi ?

Untuk mengungkap data mengenai sengkang sebagai daerah pertama yang menerima Islam di Sulsel, maka perlu kerja keras untuk menggali sumber sejarah yang telah samar-samar terungkap. Selama ini yang dikenal dalam sejarah resmi adalah Gowa merupakan kerajaan atau wilayah pertama yang menerima islam sebagai agamanya. Namun Teori ini dapat terbantahkan jika “data samar-samar” mengenai Sengkang adalah pemerima Agama Islam Pertama di Sulawesi.

Makam Sayyid Jamaluddin al-Akbar al-Husain

Adalah Sayyid Jamaluddin al-Akbar al-Husain yang merupakan Turunan Langsung dari nabi Muhammad SAW  merupakan penyebar islam pertama di Sulawesi, khususnya di Sengkang. Al-Huasain merupakan Kakek dari  Sunan Giri. Al-Husaini datang dari Aceh atas undangan raja Majapahit, Prabu Wijaya. Setelah menghadap Prabu Wijaya, ia beserta rombongannya melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Wajo melalui pantai Bojo Nepu Barru pada tahun 1300-an.



Kemudian Timbul pertanyaan, kenapa al-Husaini tak pernah ditemukan jejaknya dalam sejarah ?.  Ya.. hal itu dapat dimaklumi, karena pada zaman dahulu, hanya orang-orang pentinglah atau hanya seorang rajalah yang ditulis sejarahnya, dan al-Husain datang ke Sengkang mengenalkan islan langsung ke masyarakat biasa, beda dengan Trio Datu (Datu Ri bandang, datu di tiro dan datu patimang) yang langsung mengislamkan rajanya terlebih dahulu, sehingga sampai saat ini, kedatangan islam yang dibawa trio Datuk yang tercatat dalam sejarah.

Hal ini cukup menarik sebenarnya untuk dikaji mengenai sengkang Sebagai Wilayah pertama penerima agama islam Di Sulawesi, karena al-Husain  perannya cukup  peranannya dalam proses islamisasi di Sulawesi Selatan. Bahkan sebelum para Wali Songo menyebarkan Islam di Jawa. Data samar-samar diatas akan menjadi terang benderang jika didukung oleh data-data yang factual mengenai Sengkang sebagai penerima islam peratama di Sulawesi, dan itu menjadi tugas dari generasi muda kita saat ini untuk mengungkap kebenaran sejarah.

Makna To Maradeka orang Sengkang (Wajo)

Jika kita lihat logo dari kabupaten Wajo, maka kita akan melihat sebuah semboyan atau pandangan masyarakat wajo yang berbahasa Bugis Maradeka To Wajoe adena na popuang, yang kira-kira artinya jika dibahasa indonesiakan bahwa rakyat Wajo adalah rakyat merdeka, adat/hukum/konstitusilah yang dipertuan (diaptuhi).

To maradeka mengandung arti bahwa orang-orang Wajo adalah orang-orang merdeka dan berdaulat, raja atau pemimpin pun tidak akan dipatuhi oleh rakyat wajo jika raja atau pemimpin tersebut tidak memerintah sesuai adat atau konstitusi yang berlaku.

Adalah Puang Ri Maggalantung sebagai Arung Matoa Wajo, Beliau membawa kerajaan Wajo mencapai puncak kejayaannya . Salah satu ungkapan Puang Ri Maggalatung yang terkenal  adalah:

Maradèka to Wajo’è, najajiang alèna maradèka, tanaèmi ata, naia to makkètanaè maradèka maneng, ade’ assamaturusennami napopuang.

Yang artinya:

Orang Wajo itu merdeka dan dilahirkan merdeka. Hanya tanah yang menjadi budak sementara manusia yang hidup di atasnya adalah merdeka. Hanya adat permufakatan atau konstitusi yang berhak dipatuhi.

Ungkapan lain dari Puang Ri Maggalatung adalah:

Ri laleng tampu’ mupi namaradèka to Wajo’è.

Yang artinya:

Bahkan semenjak masih dalam kandungan, orang-orang Wajo sudah merdeka.

Dari perkataan Arung Matoa Wajo ke-4 inilah, dapat diartikan kata To maradeka orang-orang wajo, bahwa orang-orang wajo itu berdaulat, pemimpin akan dilawan jika sang pemimpin otoriter dan menyalahi konstitusi yang berlaku di negeri in.

Demikanlah artikel mengenai arti kata Sengkang, Sejarah dan hakikat rakyat wajo sebagai to Maradeka, semoga artikel ini dapat memberikan pemantik atau sugesti kepada generasi muda, khususnya generasi muda Wajo agar tahu, peduli dan menggali kearifan lokal atau sejarah mereka.[ps]

  • ***Artikel Sederhana ini dipersembahkan kepada Komunitas Blogger Wajo (KBW)

Update:

Tulisan ini Mendapatkan:

Tags:


cerita rakyat wajo, logo Kabupaten Wajo, arti kata sengkang, lambang wajo, arti ditilik, belajar bahasa bugis wajo, logo wajo, cerita kota sengkang, sayyid jamaluddin al husainy, cerita rakyat bugis wajo

Artikel Terkait Dengan: "Arti Kata Sengkang"

Response on "Arti Kata Sengkang"